JqhSRCdUrfr1KyxYuxtPdSuGcgp6mT2tPj27Nc05

15 Prosesi Pernikahan Adat Batak Toba atau Adat Na Gok, Ini Urutannya!

Pernikahan Adat Batak Toba

Acara pernikahan merupakan sebuah simbol sakral di mana dua jiwa bersatu dalam janji suci di hadapan Tuhan. Begitu juga dengan Pernikahan Adat Batak Toba yang memiliki kekhasan dan keunikannya sendiri.

Adat Batak Toba bukanlah sembarangan tradisi. Ia merupakan simbol kebersamaan dan kekuatan yang melampaui batas sosial. Ini artinya, baik seorang bangsawan atau seseorang dari lapisan sosial yang lebih rendah, semua memiliki tempat yang sama di dalamnya.

Yang tak kalah penting adalah kemampuan untuk menyesuaikan adat budaya dengan kondisi ekonomi masing-masing. Namun, pertanyaannya adalah, bagaimana sebenarnya tata cara dan urutan acara pernikahan Adat Batak Toba?

Mari kita jelajahi bersama, karena di sini kita akan mengungkap langkah demi langkah keunikan budaya yang satu ini.

Pernikahan Adat Batak Toba

Tata cara pernikahan "Adat Na Gok" merupakan bagian yang tak terpisahkan dari warisan nenek moyang masyarakat Batak Toba. Mari kita telusuri setiap langkahnya untuk memahami tradisi ini.

1. Mangarisika

Langkah pertama dalam proses pernikahan adalah kunjungan utusan pria ke rumah wanita untuk penjajakan. 
Jika pintu hati terbuka, pihak keluarga pria memberikan tanda kesediaan dengan tanda holong, sementara pihak wanita memberikan tanda mata. Pemberian ini bisa berupa kain, cincin emas, dan barang berharga lainnya.

2. Marhori-hori Dinding/marhusip

Pembicaraan terjadi antara kedua belah pihak yang melamar, namun masih terbatas dalam lingkup keluarga terdekat dan belum diumumkan kepada publik.

3. Marhata Sinamot

Kerabat pria mengunjungi keluarga wanita untuk membahas masalah keuangan secara terbuka dan jujur. Disini kedua pihak keluarga akan bertemu, dan biasanya ada saling penawaran besar sinamot (tuhor/beli). 

Jika terjadi kesepakatan kedua belah pihak, maka diteruskan dengan acara makan bersama sebagai tanda suka cita.

4. Pudun Saut

Pihak kerabat pria tanpa hula-hula mengantarkan hidangan nasi dan lauk pauknya, yang diterima dengan suka cita oleh pihak keluarga wanita. Setelah makan bersama, dilanjutkan dengan pembagian Jambar Juhut (daging) kepada anggota keluarga.

Biasanya dibagikan kepada kerabat marga ibu, kerabat marga ayah, menantu (boru), dan pengetuai. Di akhir acara, pihak keluarga pria dan wanita sepakat menentukan waktu Martumpol (acara penandatanganan di gereja) dan Pamasu-masuon (acara pertukaran cincin).

5. Martumpol

Tahapan ini menandai persetujuan resmi dari kedua belah pihak dihadapan pejabat gereja, terhadap rencana pernikahan anak-anak mereka. Penanda-tanganan persetujuan ini merupakan momen sakral yang menunjukkan kesepakatan bersama dalam mengikatkan hubungan pernikahan.

Tindak lanjutnya adalah pengumuman digereja, yang disebut "Tingting" (di HKBP). Pengumuman ini dilakukan dua kali hari Minggu berturut-turut, sebagai langkah untuk memberi kesempatan bagi pihak lain untuk mengajukan gugatan.

Setelah melewati proses ini tanpa hambatan, pemasu-masuon (pemberkatan nikah) dapat dilaksanakan.

6. Martonggo Raja atau Maria Raja

Sebelum acara pesta, tahapan ini adalah persiapan seremonial yang dilakukan oleh pihak keluarga pria. Tujuan utamanya adalah untuk mempersiapkan segala kepentingan dalam pesta.

Juga memberitahukan kepada masyarakat tentang rencana pesta, dan memohon izin kepada masyarakat sekitar. Ini menunjukkan rasa hormat kepada masyarakat sekitar agar turut serta dalam sukacita pesta yang akan diselenggarakan.

7. Pemberkatan Pernikahan di Gereja

Tahap ini adalah pengesahan pernikahan oleh pejabat gereja, yang menandakan kedua mempelai sudah sah sebagai suami-istri menurut tata cara gereja.

Setelah acara pamasu-masuon berakhir lalu kedua belah pihak menuju tempat kediaman orang tua wanita untuk mengadakan pesta unjuk. Ini sering disebut dengan mengalap parmaen (menantu wanita).

Pesta Unjuk adalah puncak dari keseluruhan rangkaian acara Pernikahan Adat Batak Toba. Mari kita bahas lebih dalam mengenai keistimewaan dan makna di balik setiap tahapannya.

8. Pesta Unjuk

Ini adalah momen sukacita yang tidak terlupakan, di mana kedua belah pihak bersama-sama merayakan pernikahan adat batak toba dengan meriah. Salah satu ciri khas pesta ini adalah adanya jambar. Di mana jambar juhut (daging) dan jambar uang (tuhor ni boru) akan dibagikan menurut kesepakatan.

Jambar ini dibagikan kepada kerabat parboru, serta dengke dan ulos bagi kerabat paranak. Pesta Unjuk ini diakhiri dengan membawa pulang pengantin ke rumah paranak, menambah kesan hangat dan bersatu antar keluarga.

9. Mangihut di Ampang (Dialap Jual)

Tahapan ini menandakan pengantin wanita dibawa ke rumah pengantin pria dengan penuh kegembiraan. Mereka mengiringi jual berisi makanan bertutup ulos, menunjukkan keramahan dan kehangatan keluarga pria kepada pengantin wanita.

10. Ditaruhon Jual

Jika pesta pernikahan dilakukan di rumah pengantin pria, pengantin wanita akan dibawa kembali ke rumah orang tuanya untuk kemudian diantar lagi oleh namborunya.

Paranak memberikan upa manaru (upah mengantar), menunjukkan rasa terima kasih dan penghargaan atas kesediaan keluarga wanita untuk menyerahkan putri mereka kepada keluarga pria.

11. Daulat ni si Panganon

Setibanya pengantin wanita di rumah pengantin pria, diadakanlah acara makan bersama dengan seluruh undangan yang masih berkenan ikut.

Makanan yang disajikan adalah hasil bawaan dari pihak parboru, menunjukkan semangat gotong royong dan kebersamaan dalam keluarga.

Tradisi Setelah Pernikahan dalam Budaya Batak Toba

Pernikahan Adat Batak Toba

Setelah menyelesaikan pernikahan adat batak toba dengan sukses, masih ada serangkaian acara yang penting untuk dilakukan. Mari kita bahas lebih lanjut mengenai tiga tahapan penting dalam perjalanan pasangan setelah menikah.

12. Paulak Une

Ini adalah momen penting di mana kedua pasangan pergi bersama ke rumah mertua untuk menyatakan terima kasih atas berjalannya acara pernikahan dengan baik. Acara ini juga berfungsi sebagai pernyataan tentang kesucian si wanita sebelum ia menikah.

Setelah selesai, pasangan kembali ke kampung halaman atau rumahnya untuk memulai hidup baru dengan berbagai harapan dan aspirasi.

13. Manjae

Setelah beberapa waktu berlalu dalam kehidupan pernikahan, terutama jika pengantin pria bukan anak bungsu, biasanya terjadi proses manjae.

Ini adalah proses di mana pengantin pria dipisahkan dari rumah orang tuanya agar hidup mandiri. Ini menandakan bahwa ia sudah memulai rumah tangganya dan dianggap sudah dewasa untuk membina keluarganya sendiri.

14. Maningkir Tangga

Tradisi ini terjadi setelah pengantin pria dan wanita telah hidup berumah tangga selama beberapa waktu, terutama setelah mereka sudah berdiri sendiri.

Parboru, atau keluarga dari pihak wanita, berkunjung ke rumah pasangan baru untuk melakukan maningkir tangga. Artinya membantu pasangan baru tersebut dalam membangun rumah tangga mereka.

Dalam kunjungan ini, parboru atau pihak keluarga wanita, membawa makanan sebagai tanda kasih sayang dan dukungan kepada pengantin tersebut.

15. Ulaon Sadari

Ulaon sadari biasanya dilaksanakan oleh keluarga yang berdomisili dikota kota besar. Sehingga pesta pernikahan ini dituntaskan dalam satu hari hingga selesai. Paulak une, paulak panaru ataupun tingkir tangga di modernisasi dan tidak berjalan semestinya.

Hal ini telah lazim dilakukan sebagian besar orang batak untuk mempersingkat jalannya pesta pernikahan adat batak toba ini. Dan pihak keluarga mungkin sudah bersepakat dan saling berkomunikasi dengan kerabat yang lainnya.

Tahapan dalam pesta Pernikahan Adat Batak Toba, menunjukkan nilai-nilai kebersamaan, keramahan, dan kehangatan yang menjadi inti dari budaya ini. Semoga artikel ini dapat membantu pembaca memahami tentang tradisi adat pernikahan Batak Toba ini.

Post a Comment